Facebook MAN IC

Teknologi Untuk Beramal, Tak Sekedar Pengetahuan

Bagi umat Islam contoh yang paling nyata adalah Al-Qur’an. Kitab Suci bagi Muslim ini sekarang jauh lebih mudah dan nyaman dibaca dibanding mushaf Al-Qur’an yang dimiliki umat periode awal, terutama para sahabat dan tabi’iin. Kini Al-Qur’an dengan harakat, tanda baca, bahkan keterangan tajwidnya disertakan untuk mempermudah membacanya.

Padahal dulu Al-Qur’an tanpa harakat, bahkan tanpa titik, yang tentu tanpa belajar sungguh-sungguh akan sulitlah hanya untuk sekedar mampu membacanya. Demikian pula buku-buku, dari ilmu fikih, hadist, tasfir, dan lain sebagainya, segala ilmu, begitu mudah kita peroleh di toko-toko buku dan perpustakaan.

Kehadiran internet, DVD, dan alat-alat elektronik lainnya telah memberi jalan super cepat bagi kita semua untuk belajar tentang Islam. Belum lagi acara televisi dari subuh, setiap hari, pasti ada siraman rohani yang dapat kita nikmati di mana saja. Tinggal pencet remot, tittt, maka acara keagamaan bisa kita saksikan dengan beragam pilihan.

Kami yakin, sebagian besar dari kita sudah belajar dengan aneka media yang menghampar begitu banyaknya. Lewat handphone yang kita pegang, berbagai aplikasi, data, dan layanan memberi kemudahan kita setiap saat untuk belajar memperdalam ilmu agama kita.

Dengan berbagai kemudahan belajar itu sudah sewajarnya jika era kita sekarang lebih pintar, lebih berpengetahuan, dan lebih beradab dibanding era-era sebelumnya. Tak salah jika ada yang mengatakan, satu edisi koran Kompas harian, isinya jauh lebih banyak dari apa yang dipelajari oleh manusia awam abad 16 dan 17. Bayangkan, itu baru satu hari koran yang kita baca, belum televisi, majalah, jurnah, pengajian, pendidikan formal dst. Artinya, sekali lagi, pengetahuan manusia era sekarang, Muslim saat ini, dengan Muslim sebelumnya seharusnya lebih banyak, lebih luas dan beraneka ragam.

Tetapi jika kita melihat realitas sekeliling kita; grafik kejahatan, dari pembunuhan, kekerasan, korupsi dan lain sebagainya, tidak menurun tapi cenderung naik. Kecelakaan lalu lintas, bencana alam, terutama banjir, bukan berkurang tapi bertambah dan terus bertambah.

Apa kaitannya kejahatan dan bencana dengan berbagai kemudahan belajar yang kita miliki? Jelas, sangat jelas berkaitan. Sebab berbagai kejahatan dan bencana itu tidak lepas dari perilaku kita.

Di sini tampak gap yang nyata antara pengetahuan atau ilmu dengan amal yang dilakukan. Ilmu kita banyak, tetapi amal kita terhadap ilmu itu kurang, bahkan nol, atau mungkin lebih parah, minus. Diperintahkan melakukan kebaikan dan dilarang melakukan keburukan, tetapi prakteknya melakukan keburukan dan kurang melaksanakan kebaikan.

Kita saat ini lebih banyak mengunyah, memasukkan berbagai pengetahuan, tetapi dipendam, disimpan, tak diolah menjadi perilaku dan akhlak harian. Kita bisa bayangkan, diri kita seperti orang yang memasukkan apa saja ke mulut. Kita  makan, kita kunyah, tetapi sama sekali tidak kembali keluar menjadi keringat, menjadi energi, atau sekedar keluar sebagai kotoran. Mengunyah dan terus mengunyah, hingga akhirnya menjadi penyakit dan merusak diri kita.

Kita tahu, Islam mengajarkan menyambung silaturrahmi, tetapi faktanya kita bisa saksikan banyak yang memutus silaturahmi, karena kepentingan pribadi atau kelompok, atau bahkan kepentingan politik sesaat.

Kita tahu bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, penyebab banjir, atau lebih luas, berbahaya bagi lingkungan. Tetapi faktanya kita melihat dari rakyat biasa, pejalan kaki hingga yang bermobil mewah buang sampah sembarangan. Buka kaca mobil, dan keluarlah botol minuman atau plastik sampah di jalan.

Kita tahu pembunuhan itu dosa, tapi setiap hari berbagai kasus pembunuhan berulang-ulang terus terjadi. Lagi dan lagi, angka dan beritanya naik dan terus naik.

Kita tahu bahwa polusi berbahaya bagi kesehatan bumi kita. Tetapi tiap saat jutaan kendaraan yang tak ramah lingkungan bertambah dan terus bertambah tanpa hirau akan akibatnya.

Inilah karakter yang oleh Allah disebut layaknya keledai.

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka (kitab suci) Taurat, kemudian mereka tiada menunaikannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar lagi tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allâh tiada memberi petunjuk bagi kaum yang zhalim” [al-Jumu`ah/62:5]

Ayat ini memberi umpama bagi siapa saja yang memiliki pengetahuan agama yang banyak, tetapi ia tidak mengamalkannya, layaknya keledai yang mengangkut kitab-kitab dipunggungnya, tidak memberi tambahan manfaat, bahkan memberi beban kepadanya.

Karena itu mari dengan ilmu yang ada kita amalkan. Meski sedikit ilmu, tapi semua diamalkan, jauh lebih baik daripada banyak ilmu tetapi tidak bermanfaat sama sekali. Sebab ilmu tanpa manfaat, tidaklah membawa kebahagiaan, justru sebaliknya menjadi sebab bencana abadi, yang akan dituntut nanti di akhirat. Sebagaimana yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW:

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ اَرْبَعٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَه  وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ

“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ditanya tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya; tentang ilmunya; apa yang ia kerjakan dengannya; tentang hartanya, dari manakah dia mendapatkannya dan bagaimana ia membelanjakannya, serta tentang raganya; bagaimana ia mempergunakannya”.

Dengan gadget yang kita miliki, smartphone, tablet, dan lain sebagainya menjadi sarana penguat amal kita. Sebab Islam bukan agama dalil belaka, bukan agama ilmu saja, tetapi sesungguhnya ia adalah agama amal, praktek di dalam kehidupan sehari-hari. Satu helaan bersama nafas mukmin, seiring gerak langkah seorang muslim. Wallahu a’lam

Oleh: Fathuri SR

Pak Guru, Jangan Sembunyi di Belakang LCD Proyektor Dong!

Aktivitas Belajar MAN Insan Cendekia Aceh Timur
Alkisah, di suatu SMA Negeri ada seorang orang guru Bahasa Indonesia. Namanya pak Budi. Ia adalah seorang guru muda. Banyak siswa menjadikannya sebagai guru favorit karena selain sifatnya yang ceria, Pak Budi selalu memaafkan teknologi dikelasnya. LCD Proyektor dan sebuah laptop menjadi ‘senjata’nya dikelas. Microsoft PowerPoint™ adalah program andalannya. Slide presentasinya penuh dengan gambar warna-warni dan animasi ala film Star Wars. Sesekali siswanya disuguhkan video dokumenter yang di downloadnya dari Youtube. Diakhiri pelajaran video tersebut akan dibahas, didiskusikan dan didebatkan oleh siswa secara berkelompok.

"Lebih menarik bagi siswa, dan menghemat waktu. Tidak perlu lagi nyatat di papan tulis" kata Pak Budi.

“Siswa jadi lebih lebih aktif dalam belajar, hampir gak ada yang izin ke WC kalau jam pelajaran saya ” sambungnya dengan bangga.

Pelajaran Bahasa Indonesia pun disulapnya menjadi pelajaran yang sangat dinanti siswa tiap minggu. Pak Budi pun naik pamornya di ruang guru. Sering ia pujian dari Kepsek dan sesama rekan guru lainnya.

Suatu pagi di sekolah tersebut listrik padam. Pak Budi kalang kabut mencari generator listrik. Namun, tak jua didapatkannya (karena memang belum diibeli pihak sekolah). Pak Budi akhirnya masuk kelas tanpa senjatanya. Ia harus menggunakan cara Klasik, ceramah sambil mencatat di papan. Siswa yang tadinya semangat lambat laun jadi pasif, tak termotivasi dan cenderung mengantuk. Ternyata pak Budi tak mahir ceramah dikelas. Selama ini ia diselamatkan oleh Proyektor LCD dan laptop. Teknologi telah menggeser fungsinya sebagai guru.  

Kisah pak Budi menjadi pengingat pada bapak ibu guru muda yang memanfaatkan teknologi dalam mengajar. Kita istilahkan saja dengan technology syndrome. Memang tak berdosa ketika kita menggunakannya sebagai penunjang performa mengajar kita. Namun, patut diingat bahwa teknologi hanya alat bantu, teknologi tidak bisa menggantikan sang guru. Ibarat konser gitar tunggal, penonton harus terpukau pada kemampuan gitarisnya bukan pada gitarnya. Ya, siswa harus terpukau karena keterampilan anda mengajar, bukan terpukau karena slide show yang anda tampilkan. Jadi, jangan sembunyi di belakang teknologi. 

Secanggih apa pun teknologi dalam kelas, anda tetap menjadi pendidik, presenter, dan penyaji utama bagi siswa.  

Bagaimana caranya menghindari technology syndrome dikalangan guru muda ? Mudah saja. 

Jadikan tokoh-tokoh dimasa lalu sebagai sumber inspirasi. Bayangkan bagaimana Socrates, Aristotles, Ki hajar Dewantara dan tokoh pendidikan lainnya mengajar. Mereka bisa ceramah berjam-jam, namun tidak membuat pendengarnya bosan. 

Buatlah RPP, Prota, Promes, dan Silabus sendiri, jangan download dari internet. Repot? Tentu saja. Tapi dengan menyusun RPP sendiri, kita jadi tahu tiap tahapan dalam kegiatan mengajar kita. Mana yang awal, inti dan penutupnya. Sehingga pola mengajar terstruktur rapi. 

Mari mengenal siswa-siswi kita. Bukan secara individu, namun secara umum. Setiap kelas biasanya mempunyai satu karakter yang menonjol. Ini hanya akan nampak ketika anda punya minat pribadi ketika mengajar mereka. Jika sudah tahu karakter kelas, anda dapat menentukan metode mengajar yang sesuai.

Latih diri mengajar tanpa teknologi. Walaupun anda seorang yang menguasai teknologi, sekolah mempunyai fasilitas yang mendukung, cobalah untuk tidak menggunakannya sesekali. Lalu, diakhir pelajaran lihat dampak pada siswa. Apakah mereka merasa tergugah, tersentuh, termotivasi. Jika belum, tingkatkan mutu mengajar anda. There's no shortcut, practice makes perfect. Sehingga dalam situasi emergency (mati lampu) sekalipun, kita siap mengajar dengan gaya klasik namun tetap asik. 

Tentu saja masih banyak cara lain yang bisa anda lakukan untuk menghindari technology syndrome ini. 

Sumber: Dio Sinaba, 

Apa Kabar Dunia Pendidikan Kita?

Aktivitas Belajar di MAN Insan Cendekia Aceh Timur
Aktivitas Belajar di MAN Insan Cendekia Aceh Timur
Akhir-akhir ini siswa sudah sangat brutal, coba lihat pemberitaan di media-media. Siswa ugal-ugalan di jalan, tawuran, menggunakan narkoba, sek bebas dan tidak jujur. Miris bukan?. Teori mana yang mampu menjelaskan sebab-musabab penyimpangan moral seperti itu? Bayangkan, mereka adalah anak-anak bangsa tercinta yang pada tahun 2045 nanti akan menjadi dewasa, merekalah yang akan memimpin negara ini. Apakah anak-anak seperti ini yang dipersiapkan sebagai kado ulang tahun emas Indonesia?.

Mari kita berkaca pada pendidikan masa lampau. Bagaimana para guru mendidik siswanya, bagaimana peran orang tua dan masyarakat pada masa itu. Padahal dunia pendidikan dulu tidaklah sehebat sekarang dengan media dan teknologi jauh lebih canggih. Karakter anak-anak pada masa dulu jauh lebih berakhlak dibandingkan anak-anak sekarang. Pendidikan keraslah yang menyebabkan mereka mempunyai karakter baik.

Dulu, ketika belum ada embel-embel HAM, anak-anak yang melakukan kesalahan yang melewati batas akan dipukul oleh gurunya sehingga menjadi efek jera dan mereka tidak akan mengulang kesalahannya lagi, jika anak itu mengadu kepada orang tuanya maka orang tua ikut memarahi bahkan memukul anaknya karena sudah melakukan kesalahan. Coba anak-anak sekarang, kalau dipukul oleh guru sedikit saja, maka siap-siap dinginnya jeruji besi akan menanti guru tersebut. 

Bagaimana rumus pendidikan karakter sebenarnya? Pendidikan karakter yang bisa membuat siswa memiliki karakter baik. Apakah ada? Jangan-jangan hanya teori saja dan sulit untuk diterapkan. Barangkali ada, yaitu pendidikan ramah anak, pendidikan cinta dan kasih sayang. Namun hati-hati juga, pendidikan ramah anak akan membuat anak besar kepala dan semena-mena karena mereka tidak takut dengan gurunnya. Lagi-lagi  ini soal karakter. Lalu kesalahannya dimana?.
******
GURU
Guru profesional adalah guru yang mampu mendidik siswanya menjadi generasi yang mampu bersaing dan memiliki moral yang baik, seorang guru hendaknya memiliki prilaku yang baik yang mampu menjadi tauladan yang patut diikuti oleh siswanya. Keprofesionalitas seorang guru sangat penting bagi siswa karena guru mempunyai tugas yang sangat berat dalam mendidik, mengarahkan dan memotivasi para siswa untuk menjadi siswa yang luar biasa dan bermoral. 

Guru adalah pendidik sejati dengan tugas pokoknya yaitu mengajar, mendidik, melatih, membimbing dan mengarahkan. Sebelum sang guru memperbaiki karakter para siswanya maka para guru harus terlebih dahulu memperbaiki karakter mereka sendiri. Karakter malas, karakter korup dan karakter tidak menghargai orang lain harus jauh-jauh dibuang dan beralih kepada karakter yang patut untuk ditiru oleh para siswanya yaitu karakter seorang guru sejati. 

DOSEN
Jika siswa bodoh, siapa yang disalahkan? Semua orang akan menjawab “Guru”. Jika guru bodoh, siapa yang disalahkan? Banyak orang akan menjawab “system pendidikan”. Terlalu jauh menyalahkan system pendidikan karena system telah didesain sedemikian rupa dengan berbagai kajian dari  hasil penelitian. Kenapa tidak ada yang menyalahkan “Dosen”? Apakah dosen makhluk paling suci yang tidak bisa disalahkan?. Siswa di sekolah belajar dengan guru, guru belajarnya dengan dosen bukan dengan hantu. Dosenlah yang harus disalahkan, kenapa tidak berhasil mendidik para guru untuk bisa hebat dan profesional?.

Kita semua merindukan dosen yang mau menjadi seperti guru, ikhlas dan mau membagi ilmu tanpa dibayar,menginspirasi dan mampu menggerakkan. Ilmu itu tidak semata-mata karena uang. Kita merindukan dosen-dosen yang update dan berpikir maju. Kita merindukan dosen yang berjiwa organisasi yang bisa menjadikan mahasiswanya sebagai insan yang siap pakai dalam semua kondisi. Kita merindukan dosen yang tidak berorientasi pada nilai/hasil semata dengan mengenyampingkan proses. Dosen yang tidak mau dikritik silahkan masuk ke tong sampah karena tempatnya bukanlah di kampus tapi di tempat pembuangan. 

KORUPSI
Korupsi adalah karakter yang tidak boleh dimaafkan. Korupsi kerap terjadi di kalangan pemerintahan yang mempunyai dana besar sehingga membuat tergiur mereka yang berhati busuk untuk mencuri uang negara. Belakangan ini korupsi tidak hanya terjadi di lembaga pemerintahan saja namun sudah mulai merambah pada lembaga suci seperi sekolah dan kampus. Miris bukan?. Padahal lembaga pendidikan adalah benteng terakhir untuk memberantas korupsi. Jika lembaga pendidikan saja sudah melakukan korupsi lalu lembaga mana lagi yang harus kita percayai?.

Kampus yang seharusnya mendidik para mahasiswa untuk menjadi pemimpin yang berkarakter justeru mempertontonkan perilaku yang tidak pantas. Bagaimana para mahasiswa bisa meneladani para guru mereka yang bermental murahan seperti itu. Jika aktivitas korupsi di kampus tidak segera diakhiri maka siapa yang akan membersihkan korupsi di negara kita ini?. 

KOMITMEN MEMAJUKAN
Pendidikan di Negara kita akan tumbuh berkembang seperti negara-negara maju jika ada niat baik dari semua pihak untuk memajukannya. Kalau niat baik tidak ada dan selalu mentok karena uang maka kiamatlah dunia pendidikan kita. Banyak pihak yang memiliki wewenang untuk mengambil kebijakan yang cerdas dan memberikan dampak perubahan yang singnifikan terhadap dunia pendidikan justeru tidak berani karena alasan tidak ada dana, peraturannya tidak boleh, ini, itu dan banyak alasan lainnya. Padahal kalau kita mau jujur, kendalanya cuma pada niat dan komitmen untuk memajukan pendidikan tidak ada.

Benang merah semua persoalan pendidikan kita ada pada karakter. Yaitu karakter pemerintah, Guru/dosen, masyarakat dan siswa. Jika semua komponen ini mau introfeksi diri, berpikir maju, dan saling membantu bahu-membahu untuk memajukan pendidikan dengan penuh cinta, maka Insya Allah, dunia pendidikan kita akan sangat luar biasa. Anak-anak luar biasa yang akan memimpin Indonesia kelak. 

#M. Darmansyah. Pengajar MAN Insan Cendekia Aceh Timur.
Menulis juga di www.darmanreubee.com

Pendidikan Hanya Menghasilkan Orang Pintar Bukan Orang Terdidik

Pendidikan Hanya Menghasilkan Orang Pintar Bukan Orang Terdidik
[Gambar oleh www.drakemedia.net]
Saat ini banyak sekali terjadi tindakan-tindakan yang memalukan di negeri ini seperti korupsi, suap dan masih banyak lagi. Namun, anehnya para pelaku tindakan kejahatan tersebut adalah orang-orang pintar yang bergelar sarjana dari berbagai lulusan universtas yang ternama. Melihat fenomena-fenomena yang terjadi saat ini, sepertinya ada yang salah dengan pola pendidikan formal di Indonesia dan semestinya harus dikaji ulang.

Pola pendidikan formal saat ini hanya mengajarkan ilmu-ilmu dunia sehingga banyak menghasilkan orang-orang pintar tetapi sayangnya mereka tidak terdidik dan memiliki budi pekerti yang lemah. Akibatnya orang-orang pintar tersebut malah menjadi orang yang bejat, maling dan penindak kaum yang lemah. Padahal seharusnya merekalah yang menjadi penolong dan pemimpin yang baik untuk menciptakan kemaslahatan bagi orang banyak.

Terlebih lagi, saat ini banyak sekali orang-orang yang berpendidikan tinggi dan mengaku beragama, tetapi tindakan mereka sangat memalukan dan meresahkan masyarakat sekitar. Contohnya adalah, para dewan yang ‘’katanya’’ terhormat banyak yang tertangkap tangan melakukan korupsi atau penyuapan. Parahnya lagi tindakan tersebut dilakukan bersama-sama dengan teman-teman mereka yang juga “katanya” terhormat. Yang lebih miris saat mereka tertangkap oleh pihak yang berwajib, mereka malah dengan tenang dan melemparkan senyum yang lebar kepada masyrakat. Seolah-olah mereka senang dengan apa yang mereka perbuat. Bukankah mereka malu dengan tindakan tersebut, apakah mereka tidak mengetahui atau tidak pernah diajari bahwa memakan uang yang bukan haknya adalah perbuatan dosa dan haram hukumnya bagi mereka dan keluarganya. 

Memang mereka itu sudah kehilangan akal sehat dan putus sudah urat malunya. Bahkan ada saja orang yang jelas-jelas terjerat kasus korupsi yang menjadi ketua atau pemimpin suatu instansi. Bukankah ini sangat memalukan?  
Oleh karean itu, sistem pendidikan formal yang ada saat ini harus segera direvisi dengan tidak hanya mementingkan hasil, tetapi lebih mementingkan suatu proses untuk mencapai suatu keberhasilan agar tidak lagi mencetak orang-orang pintar yang memintari, bukannya orang-orang pintar yang mendidik.

Perlukah Ujian Nasional Online Diadakan?

Ujian Nasional Online
[Gamabar oleh  www.harnas.co]
Beberapa hari lagi Ujian nasioanal akan segera dilaksanakan baik di tingkat SMA hingga tingkat SD Pelaksanaannya pun sama dengan pelaksanaan ujian nasional tahun lalu, hanya saja pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud) menambahkan sedikit aturan baru yaitu dengan melaksanakan ujian nasional secara online di beberapa sekolah. 

Jika dilihat dari keadaan dan situasi yang ada dilapangan saat ini, rencana pelaksanaan ujian nasional online tersebut tidaklah tepat dan perlu untuk dipertimbangkan kembali. Sebenarnya ide yang disampaikan oleh pemerintah untuk melaksanakan ujian nasional tersebut sangat baik tetapi dalam pelaksanaanya di lapaangan akan menimbulkan berbagai macam permasalahan seperti infrastruktur yang belum merata dan kurangnya pengetahuan atau tenaga-tenaga ahli di beberapa sekolah. 

Jika pelaksanaan ujian nasional online ini tetap dilakukan, beberapa sekolah akan mengalami kesulitan karena ketiadaan infrastruktur yang memadai seperti komputer, akses internet dan daya listrik. Coba kita bayangkan jika di sekolah tersebut memiliki 300 siswa yang mengikuti ujian nasional, maka berapa jumlah komputer yang dibutuhkan oleh pihak sekolah untuk melaksanakan ujian nasioanl ini. Tentunya mereka akan membutuhkan komputer yang sangat banyak. Apabila tetap dipaksakan, cara satu-satunya adalah dengan menggunakan komputer secara bergantian, tetapi cara ini malah akan menimbulkan masalah baru yaitu timbulnya kecurangan-kecurangan dalam ujian nasional. Kalaupun kecurangan ini tetap dibiarkan terjadi, lantas apa gunanya ujian nasional dilaksanakan dengan menghambur-hamburkan uang Negara yang tidak sedikti tersebut, jika tujuan utama ujian nasional tidak tersampaikan. 

Terlebih lagi masalah yang dapat ditimbulkan adalah kurangnya tenaga-tenaga ahli di beberapa sekolah. Pelaksanaan ujian nasional yang baru akan dilaksanakan tahun ini akan membuat beberapa sekolah bingung. Bahkan ada juga yang tidak mengerti bagaimana melaksanakannya. Misalnya, jika ada guru  dan siswa yang tidak bisa menggunakan komputer, lalu apa yang akan terjadi? bisa dipastikan mereka akan kesulitan dan tentunya ini juga akan menambah beban beberapa siswa. Mereka bisa terganggu konsentarsinya dan akibatnya mereka malah akan gagal dalam ujian nasioanl ini.

Semestinya apabila pemerintah ingin melaksanakan ujian nasional secara online, mereka harus menjamin ketersediaan infrastruktur yang mendukung dan juga jangan terlalu terburu-buru untuk melaksanakannya. Pemerintah pun perlu melakukan sosialisasi langsung ke sekolah jauh-jauh hari sebelum ujian nasional dilaksanakan agar tidak menimbulkan masalah yang telah disebutkan di atas. 

Guru dan Siswa MAN Insan Cendekia Observasi ke Rumah Sakit

Siswa MAN Insan Cendekia Observasi ke Rumah Sakit
Guru dan Siswa MAN Insan Cendekia Observasi ke Rumah Sakit
Siswa MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Insan Cendekia (IC) Aceh Timur pada hari Selasa 13 Oktober 2015 melakukan kunjungan observasi ke ruang tranfusi darah RSU dr.Zubir Mahmud Idi Rayeuk.

Observasi ini dalam rangka peningkatan kompetensi siswa khusus bidang studi Bahasa Indonesia, Didampingi pengasuh bidang studi Alfian,S.Pd, waka kurikulum Firdaus dan waka siswa Aris Jainuri, para siswa MAN Insan Cendekia tersebut berkesempatan untuk beraudiensi serta bertukar informasi dengan pihak rumah sakit.

Kepala MAN IC Aceh Timur Shulfan, S.Ag, M.Sc mengatakan bidang studi Bahasa Indonesia yang merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di madrasah unggulan tersebut mewajibkan kepada semua siswa membuat laporan, “Salah satu tema laporan yang ditetapkan guru yaitu tentang transfusi darah, maka dari itu siswa diajak untuk melakukan pengamatan di rumah sakit ini,” ujar Shulfan.

Menurut Shulfan, observasi ini merupakan langkah para guru yang mempunyai kreatifitas dan inovasi untuk melahirkan siswa-siswi yang terampil. “MAN IC salah satu madrasah yang melaksanakan kurikulum K 13 dituntut agar guru harus kreatif dan punya inovasi dalam hal memberi pengetahuan kepada siswa, salah satunya dengan observasi ini,” katanya.

Ia berharap, para guru dan siswa kompak melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik agar lulusan madrasah tersebut pintar, santun dan terampil. “MAN IC adalah sekolah plus. Karena selain belajar pelajaran umumnya, siswanya juga mendapatkan pelajaran agama yang lebih baik. Oleh karena itu lulusan MAN ini harus menjadi generasi yang bisa tampil beda di masyarakat, yaitu generasi yang pintar, santun dan terampil,” ujarnya. 

Lebih lanjut Shulfan juga akan terus berusaha menciptakan generasi yang terampil lewat guru-guru yang profesional dan inovatif “Kita akan berkomitmen melahirkan generasi yang terampil dan bermanfaat, mudah-mudahan mereka dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi favorit nantinya,” pinta Shulfan.

MAN Insan Cendekia Segera Dibangun di 20 Provinsi


JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Pendidikan Madrasah, sedang menginisiasi pendirian MAN Insan Cendekia di 20 Provinsi di Indonesia. Enam sekolah MAN Insan Cendekia di antaranya telah siap beroperasi tahun pelajaran 2015/2016.

Ke-enam sekolah itu yakni MAN Insan Cendekia Aceh Timur, Siak Riau, OKI Sumatera Selatan, Bangka Tengah Babel, Pekalongan, dan MAN Insan Cendekia Paser Kalimantan Timur. Untuk memastikan proses pendidikan bisa berjalan dengan baik dan tetap berorientasi pada peningkatan mutu. Dit Pendidikan Madrasah telah membekali calon Kepala Madrasah, Guru, dan Pembina Asrama yang akan ditugaskan di enam MAN Insan Cendekia tersebut.

Sekretaris Projek Manajemen Unit (PMU) MAN Insan Cendekia, Ruchman Basori mengatakan bahwa kegiatan orientasi dan pemagangan bagi PTK MAN Insan Cendekia ini sebagai piranti agar para Kepala Madrasah, Guru dan Pembina Asrama memahami tugas-tugas menjalankan MAN Insan Cendekia.

“Kesamaan pandang, kesamaan pikir dan kesamaan langkah dalam mengembangkan MAN Insan Cendekia harus dimiliki oleh mereka, sehingga ikhtiar mereplikasi keunggulan MAN Insan Cendekia yang telah ada agar dapat terwujud,” kata Ruchman Basori dikutip Okezone Kamis (9/7/2015) dari laman Kemenag.

Makanya, selain diberikan materi teotitis tentang pendidikan, pembelajaran, kurikulum dan evaluasi dan manajemen pengembangan MAN Insan Cendekia, peserta, kata Ruchman Basori, dimagangkan di MAN Insan Cendekia Serpong Kota Tangerang Selatan untuk beberapa waktu.

http://news.okezone.com/

↑